Senin, 22 Januari 2018

Buku Asli apa Bajakan ??

Assalamu alaikum sahabat

Apa kabar guys.....Tetap sehat, tetap semangat ya....


Jadi ceritanya, pada hari senin kemarin saya sempat jalan-jalan ke kwitang. Mencoba lihat-lihat toko buku bekas yang memang berjajar disepanjang jalan ke arah persimpangan menuju pasar senin dan kwitang raya. Dulu waktu awal kerja di jakarta,saya sempat kos beberapa bukan di kawasan kwitang dalam, sebelum akhirnya pindah dan menetap di Bekasi. Jadi jalan-jalan ini yaaa semacam napak tilas perjalanan hidup waktu awal menghirup ibu kota lah setelah tujuh tahun hidup di pulau seberang hehehe.


Toko buku bekas di kwitang sekarang tak seramai dan sepopuler jaman dulu. Jadi inget waktu jaman saya kuliah dulu, setiap butuh buku buat referensi bahan kuliah, selalu teringat dengan yang namanya buku bekas. Dan salah satu yang jadi idola waktu itu ya kawasan ini. Namun sepertinya waktu berputar begitu cepat dan jaman terus berkembang, kids jaman now sepertinya sudah bisa mendapatkan banyak hal yang dibutuhkan dan atau diinginkan hanya melalui beberapa klik layar komputer mereka atau smartphone tanpa harus mondar-mandir kesana kemari dan barang yang dipilih sudah diantar ke alamat mereka. So simple..

Yang menarik dari toko ini adalah, disamping mereka menjual bermacam-macam buku bekas, mereka juga menawarkan buku replika – sebuah istilah baru untuk memperhalus karya bajakan – dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harga buku original, bahkan dari buku ori bekas. Dari tampilan fisik awal nyaris kelihatan sama dan identik, namun jika diperhatikan lebih dekat ternyata sangat jelas berbeda. Mugkin secara konten isi sama, namun kualitas kertas dan tinta cetak sangat jauh dengan kualitas buku aslinya. Namun dengan harga yang terpaut jauh sedangkan kontennya sama, beberapa orang mungkin akan menjadikannya alternatif yang menarik untuk dipilih. Dengan dana yang sama, seseorang bisa mendapatkan beberapa buku replika a.k.a bajakan, daripada hanya mendapatkan sebuah buku ori saja. Namun apakah hal tersebut benar-benar worth it untuk dilakukan? Nah, disinilah  saya tertarik untuk membahasnya

Saya coba googling tentang awal mula akivitas pembajakan buku semacam ini, dan menemukan fakta yang cukup memprihatinkan. Ternyata kegiatan pembajakan buku di Negeri yang kita cintai ini sudah berlangsung sejak tahun 1966. Di era tersebut mungkin saya bisa memahami kondisi ekonomi masyarakat kita yang masih belum stabil, sehingga kemampuan finansial masyarakat lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lebih premier, dan saat itu buku bukan termasuk sesuatu yang penting untuk dimiliki semua orang. Saya sempat mengalami era dimana harga buku pelajaran asli cukup mahal, dan itu hanya dimiliki oleh guru yang mengajar kami, sehingga kami sekelas cuman bisa mengkopinya per siswa. Meskipun itu sama sekali tak menurunkan semangat kami untuk menuntut ilmu, mengejar impian kami (halah...hehehe), namun mengingatnya bikin saya malu juga, generasi masa depan sudah menjadi pembajak justru ketika masih duduk di bangku sekolah. Beruntung jaman sekarang semuanya jauh lebih baik. Hak cipta untuk buku pelajaran sudah dimiliki oleh negara dan berhak diunduh dan dinikmati oleh seluruh rakyat indonesia, jadi seharusnya sudah tidak ada lagi alasan bagi siswa kesulitan mendapatkan buku pelajaran yang dibutuhkan. Semoga dengan ini masa depan dunia pendidikan di negara ini semakin berkembang pesat. Amiin.

Kembali ke permasalahan pembajakan buku. Bukan hanya buku pelajaran yang menjadi korban pembajakan, segala macam jenis buku yang memiliki potensi rupiah yang menguntungkan, akan mengalami yang namanya pembajakan. Dari dunia sastra yang paling terkena dampaknya adalah Novel. Baik Novel karya anak bangsa sendiri, novel terjemahan, bahkan novel luar asli pun sudah dapat kita jumpai versi KW-nya. Jelas ini merupakan fenomena yang memprihatinkan. 

Suatu saat saya menginginkan sebuah novel, karena memang demi efesiensi waktu, saya mencoba mencarinya di onlineshop. Sekali lagi saya dibuat terpukau, justru buku bajakan yang mendominasi pilihan buku disana. Semua seller  dengan bangganya mendekripsikan buku bajakan yang menjadi dagangan mereka, bahkan terjadi perang harga diantara mereka, wow...disitulah terkadang saya merasa sedih L. Dimana penjual buku asli? Mereka tersisihkan jauh dibawah, karena harga mereka memang kalah bersaing dengan yang lainnya. Tenang saja agan-agan sekalian, rejeki mah sudah ada yang mengatur, tetap jalani hidup ini,  lakukan yang terbaik (aseeek...)


Sebagai bahan renungan bagi sahabat yang masih menjadikan buku replika, buku KW, buku saudara kembar, buku yang tertukar atau apapun istilahnya, nih ada beberapa hal untuk direnungkan, dipahami, diresapi, syukur-syukur bisa dipertimbangkan saat kalian mau membeli buku lagi


1.     Setiap buku memiliki hak cipta penulisnya brooo....




Sebuah buku yang saat ini kalian nikmati, tidak serta-merta ada. Pasti telah melalui perjalanan panjang dan proses yang lama. Bisa kita bayangkan kerja keras penulisnya, dari menangkap ide, mengkonsepnya, mengeditnya, mengajukan ke penerbit, merevisi kembali, menentukan layout dan berbagai tahapan-tahapan yang tidak pernah dipikirkan oleh oknum yang menggandakannya begitu saja. Dalam perjalanan penciptaan sebuah karya bisa saja menyimpan banyak hal tentang penulisnya, cerita waktu keluarga yang terbagi, ide yang mentok, deadline pressure, dan banyak hal menarik yang semestinya kita hargai dan apresiasi dengan membeli karya mereka secara terhormat, ya..saya lebih suka menyebutnya cara terhormat. So...please guys, let’s respect them .


2.     Kualitas itu penting 




Mungkin masih segar dibenak kita beberapa hal yang tempo hari beredar di media sosial maupun media elektronik tentang beredarnya beras palsu, obat palsu, minyak goreng palsu dan kepalsuan-kepalsuan yang merugikan kita dan menguntungkan beberapa orang jahat disana. Semua itu dijual dengan kualitas yang buruk dan membahayakan tubuh kita. Pun begitu juga dengan buku. Sebagian buku bajakan yang dijual dipasaran memiliki kualitas yang jauh lebih buruk dibanding aslinya. Cover yang jelas berbeda dari sisi tekstur dan warnanya. Kertas yang digunakan untuk halaman isinya juga jelas berbeda dengan versi ori, belum lagi kekuatan penjilidan yang asal-asalan dan jumlah halaman yang terkadang tidak lengkap.  Jika semua hal  itu bukanlah sebuah masalah bagi kita, pertanyaan berikutnya adalah, seberapa berkualitas hidup kita saat ini? Bagi saya, kualitas itu penting


3. Masa Depan generasi Penulis dan Pembaca ditentukan hari ini



Semua orang mungkin sadar bahwa kita akan berakhir ketika waktunya telah tiba nanti. Jaman kita akan digantikan dengan generasi baru dan peradaban barunya. Apa yang kita miliki saat ini mungkin akan jadi catatan sejarah bagi mereka sebagaimana kita mencatat kehidupan nenek moyang kita yang telah lampau. Tentu kita ingin meninggalkan segala kenangan baik, tata peradaban yang baik dan memori yang membuat mereka bangga dengan keberadaan kita. Sejarah telah mencatat  bahwa buku merupakan salah satu bentuk peninggalan yang tak pernah lekang oleh waktu. Keaslian sebuah buku merupakan bukti bahwa kita adalah bangsa yang beradab, bangsa yang menghargai pemikiran orang lain, bangsa yang besar dari menghargai jasa orang lain. Akankah generasi masa depan akan tetap menikmati karya-karya original yang saat ini masih kita nikmati? Atau mereka hanya bisa menikmati karya cipta palsu dengan segala kepalsuanya? Tentukan pilihanmu saat ini demi generasi anak cucu kita nanti.


Wah tak terasa tulisan ini sudah panjang bercerita, pdahal masih banyak yang ingin saya share masalah buku bajakan ini, tapi saat ini cukup sampai segini aja ya. Jika sahabat sekalian ingin menambahkan, memberi masukan, saran dan kritik,,,,silahkan komen dibawah ya, matur nuwun


Wassalamu ‘ alaikum sahabat


source and picture :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The Dark Knight

Malam nanti akan berbeda dengan malam-malam pergantian tahun sebelumnya, setidaknya bagiku, bagi kami Bukan ...